Zakiah daradjat psikolog islam

Zakiah Daradjat disebut sebagai pelopor psikolog Islam!

51 View

Opera Timur   – Kaum perempuan juga banyak yang memiliki kontribusi besar dalam membangun bangsa ini. Salah satu tokoh perempuan yang berkontribusi adalah Zakiah Daradjat. Dia merupakan pendakwah berkualifikasi ulama dan juga seorang ahli psikologi agama.

Cendekiawan muslim Komaruddin Hidayat bahkan menyebut Zakia sebagai pelopor psikologi Islam di Indonesia. Hal senada juga pernah disampaikan tokoh, KH. Amidhan.

“Bu Zakiah itu tokoh dan pelopor psikologi Islam,” kata Kiai Amidhan saat Zakiah wafat pada 2013 silam.

Zakiah juga dikenal sebagai tokoh pendidikan Islam di Indonesia. Dia merupakan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan juga pernah menjadi dosen di berbagai perguruan tinggi Islam di Indonesia. Saat menjadi dosen, dia telah membuka layanan konsultasi psikologi untuk membantu masyarakat.

Zakiah Daradjat lahir pada 6 November 1929 di Bukittinggi, Sumatera Utara. Lahir dari lingkungan keluarga yang taat beragama, Zakiah merupakan anak tertua dari 11 bersaudara. Ayahnya, Haji Daradjat Husain aktif dalam organisasi Muhammadiyah, sedangkan ibunya Rafiah adalah anggota Sarekat Islam.

Sejak kecil Zakiah telah ditempa dengan pendidikan agama yang kuat dan dia sudah dibiasakan oleh ibunya untuk menghadiri pengajian-pengajian agama dan dilatih berpidato oleh ayahnya. Pada usia tujuh tahun, Zakiah baru mulai memasuki sekolah. Dia menempuh pendidikan formal di Sekolah Dasar Muhammadiyah, dan sorenya belajar dasar-dasar agama di Madrasah Diniyah.

Bakatnya sebagai pendakwah sudah terlihat sejak di bangku kelas 4 SD. Saat itu, untuk pertama kalinya Zakiah berpidato di hadapan para guru dan murid dalam acara perpisahan sekolah.

Setelah lulus dari sekolah dasar, Zakiah melanjutkan pendidikannya ke salah satu SMP di Padang Panjang sembari belajar ilmu agama di ke Kulliyat Muballighat, kursus calon muballigh. Kemudian meneruskan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) di Bukittinggi.

Saat itu sangat jarang kaum perempuan yang melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi. Namun, setelah tamat SMA pada 1951, Zakiah terus melanjutkan studinya ke Fakuktas Tarbiyah Perguruan Tinggi Agama Islam Yogyakarta yang sekarang sudah berubah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Berkat kecerdasannya, lima tahun kemudian Zakiyah mendapatkan beasiswa di program S2 Fakultas Pendidikan Universitas Ein Shams Kairo Mesir. Tesisnya tentang problema remaja di Indonesia mengantarnya meraih gelar magister pada tahun 1959.

Saat itu, dia sudah sering melakukan praktik di klinik kejiwaan di almamaternya. Sambil lalu, Zakiya berjuang untuk menyelesaikan program S3 di Universitas yang sama. Akhirnya, dia pun mampu meraih gelar doktor pada 1964 dalam bidang psikologi.

Setelah bertahun-tahun mencari ilmu di luar negeri, Zakiyah akhirnya pulang ke Indonesia untuk mengamalkan ilmunya dan bekerja di Kementerian Agama RI. Menteri Agama, Saifuddin Zuhri saat itu menyarankan Zakiah untuk membuka klinik konsultasi di Kementerian Agama.

Sejak saat itu lah Zakiah aktif berdakwah dan menasihati orang-orang. Namun, dia kemudian membuka konsultasi kejiwaan pribadi untuk mendengarkan berbagai persoalan hidup kliennya.

Namun, berbeda dengan psikolog pada umumnya, dalam praktiknya Zakiyah menggunakan pendekatan agama Islam untuk memecahkan persoalan yang dihadapi kliennya, yang kebanyakan kaum perempuan.

Zakiah merupakan ulama perempuan pertama yang menjadi Ketua MUI. Dia juga pernah menjadi Direktur Direktur Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam, menjadi Dewan Riset Nasional, dan pernah menjadi Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Bahkan, dia juga pernah diberikan amanah sebagai Ketua Perhimpunan Perempuan Alumni Timur Tengah.

Dalam berdakwah Zakiah Daradjat tak mengenal Lelah. Bahkan, dia bisa berceramah lima sampai enam kali dalam sehari saat usianya masih 31 tahun. Dia berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mensyiarkan agama Islam.

Dia tak hanya terampil dalam berdakwah, tapi juga produktif alam menulis. Selama hidupnya, dia telah menghasilkan puluhan buku mengenai psikologi dan agama. Di antaranya, bukunya yang berjudul “Kesehatan Mental” yang diterbirkan pada 1969, “Ilmu Jiwa Agama” terbit pada 1970, dan buku “Problem Remaja Indonesia” pada 1974.

Selain itu, Zakiyah juga pernah mendapat sejumlah penghargaan atas prestasinya di bidang pendidikan. Pada 1965, Zakiyah mendapat medali ilmu pengetahuan dari Presiden Mesir Gamal Abdul Nasir. Penghargaan itu diberikan pada saat upacara Hari Ilmu Pengetahuan.

Menjelang akhir hayatnya, Zakiah Daradjat masih aktif mengajar, memberikan ceramah, dan membuka konsultasi psikologi. Hingga akhirnya dia wafat di Jakarta dalam usia 83 tahun pada 15 Januari 2013 silam. Almarhumah dimakamkan di Kompleks UIN Ciputat.

Zakiah memang merupakan seorang psikolog muslim. Namun dia juga memiliki perhatian yang luar biasa terhadap pendidikan Islam. Karena itu, Zakiah turut melahirkan pemikiran di bidang pendidikan Islam.

Pemikiran pendidikannya cenderung ke arah pendidikan jiwa, khususnya terkait kesehatan mental. Zakiah memandang bahwa pendidikan harus mencakup kehidupan manusia seutuhnya, tidak hanya memperhatikan segi akidah dan ibadah saja, tapi juga memperhatikan segi akhlaknya.

[irp]

Pemikiran Zakiah Daradjat di bidang pendidikan agama banyak mempengaruhi wajah sistem pendidikan di Indonesia. Dia termasuk salah seorang tokoh yang mendorong lahirnya kebijakan pembaruan madrasah.

Melalui surat keputusan Menteri Agama, Mendikbud, dan Mendagri, Zakiah menginginkan peningkatan penghargaan terhadap status madrasah. Salah satunya dengan memberikan pengetahuan umum 70 persen dan pengetahuan agama 30 persen, sehingga lulusan madrasah bisa diterima di sekolah maupun perguruan tinggi umum.

[irp]

Sementara, ketika menempati posisi sebagai Direktur di Direktorat Perguruan Tinggi Agama, Zakiah juga banyak melakukan sentuhan bagi pengembangan perguruan tinggi agama Islam. Salah satu contoh, untuk mengatasi kekurangan guru bidang studi umum di madrasah-madrasah, Zakiah membuka jurusan tadris di IAIN.

Pada 1965, Zakiah Daradjat memutuskan membuka praktik psikologi di rumahnya di Wisma Sejahtera, Jalan Fatmawati, Cipete, Jakarta Selatan. Profesor perempuan ini pun semakin mengetahui watak berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat.

Namun, dalam menjalankan praktik psikologinya Zakiah tidak memasang tarif, sehingha dia kerap tidak menerima bayaran apa-apa dari kliennya. Walaupun, beberapa pasiennya juga ada yang memberikan bayaran seikhlasnya, termasuk berupa buah-buahan.

[irp]

Ia dengan tekun mendengarkan keluhan para pasiennya tanpa memandang apakah mereka dari golongan masyarakat mampu atau bukan. ”Seringkali saya tidak menerima bayaran apa-apa, karena memang tujuan saya untuk menolong sesama manusia,” kata Zakiah.

Selama berpuluh-puluh tahun, Zakiah hampir setiap hari menggeluti berbagai persoalan yang berkaitan dengan remaja. Dia rata-rata menghabiskan waktu dua jam menerima pasiennya yang kebanyakan anak remaja, atau orangtua yang mempunyai masalah dengan anak-anaknya.

Zakiah sangat prihatin dengan banyaknya orangtua yang kurang memperhatikan anak-anaknya. Apalagi, menurut dia, secara tidak sadar banyak orang tua yang ikut memberikan andil dalam menjerumuskan anaknya.

Menurut dia, kebanyakan anak-anak berperilaku nakal karena di rumah kurang mendapat kasih sayang orangtuanya. Karena itu, Zakiah mengaku selalu mengelus dada bila mendengarkan orangtua yang selalu menyalahkan anak-anaknya yang nakal.

[ Source: republika.co.id ]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *