Tak ada seorangpun yang bisa melepaskan diri dari ‘waktu

Tak Ada Seorangpun Yang Bisa Melepaskan Diri Dari Waktu

37 View

Opera Timur – Dari kegiatan sosial sampai kegiatan religipun butuh waktu. Shalat yang kata Nabi itu menjadi tiang agama, juga butuh waktu. Begitu pun ibadah yang lain.

Zakatpun butuh waktu. Apalagi puasa dan haji semuanya ditentukan oleh waktu. Silaturrahmi ke sanak kerabat butuh waktu. Bahkan bakti sosialpun juga butuh waktu untuk melaksanakannya.

Namun kerap kali Manusia melupakan, bahwa waktu itu adalah nikmat yang begitu agung. Maka benar kata Nabi:

نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس: الصحة والفراغ
Dua nikmat yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia; sehat dan kesempatan. HR: Al-Bukhari: 6412.

Banyak orang yang sehat namun tidak memiliki kesempatan untuk melakukan kebaikan. Sebaliknya, banyak orang memiliki kesempatan luas namun tidak memiliki kesehatan untuk beramal baik. Oleh karena itu al-Ghazali berkata:

Ada empat hal yang hanya akan dipahami nilainya oleh empat orang saja. Pertama, tidak akan pernah mengetahui, betapa berharganya hidup ini kecuali orang yang mati. Kedua, hanya orang yang sakit sajalah yang akan memahami betapa berharganya kesehatan. Ketiga, tidak akan pernah mengetahui, betapa berharganya masa muda ini kecuali orang yang sudah lanjut usia. Keempat, hanya orang miskin sajalah yang akan memahami betapa berharganya kekayaan. (Al-Minhaj al-Sawiy, 468. Bughiyah al-Mustarsyidin, 5).

Abdullah al-Haddad berkata: setiap hembusan nafas adalah permata yang tak terhingga nilainya. Karena ia tidak akan pernah bisa di nilai dan dihargai dengan nilai apapun dan harga sebesar apapun, bila ia hilang maka ia tak bisa kembali. (Risalah al-Muawanah, 35).

Lebih lanjut Abdullah al-Haddad berkata: waktumu adalah umurmu. Umurmu adalah modal bagimu untuk berniaga, dengan umur itu pulalah kau mampu menggapai kenikmatan tertinggi dan abadi disisi Allah. (Al-Fushul al-Ilmiyah, 13)

Maka tak heran bila sebagian ulama’ mengatakan: bahwa waktu itu indah. Oleh karena itu hanya orang orang yang menyukai keindahan yang mampu menggunakan waktu.

Imam Syafii turut memberikan testimoninya soal waktu. Menurutnya. Kehidupan dunia ini hanyalah sekejap, maka isilah yang hanya sebentar ini dengan ibadah. (Al-Fushul al-Ilmiyah, 131). Barang siapa yang menggunakan umurnya pada selain ibadah, maka sungguh ia telah menggunakan sesuatu yang paling berharga pada hal yang paling rendah, begitu petuah Abdullah al-Haddad. (Tatsbit al-Fuad 2/278).

Tidak ada satupun yang kemuliaannya melebihi waktu bagi seorang pelajar. Maka bila ada seseorang yang ingin memberi dan menggali faedah ilmu, maka luangkanlah waktu untuk itu.

Dan kini, kita semua tengah berada dalam bentangan waktu yang mulia, Ramadhan. Ya, Ramadhan namanya, waktu nan mulia ini hanya sebentar, 30 atau 29 hari.

Namun, waktu yang sesaat ini, akan penuh dengan kualitas bila diisinya dengan hal hal yang berkualitas pula. Apa itu? Aktifitas ibadah. Dan aktifitas ibadah itu, disarankan dilakukan di rumah saja. Artinya, beribadah bersama keluarga adalah kesempatan yang luas yang tentu harus disambut dengan rasa syukur yang tak terukur.

Mungkin selama ini kita lupakan keluarga demi hal hal yang tak berharga. Kini oleh Allah dikembalikan semuanya. Sambutlah beribadah dari rumah dengan ramah. Demi sebuah keselamatan yang tak kelihatan. Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga nikmat makin leluasa dari yang Maha Kuasa. Amin. [Islamkaffah]

Leave a Reply

Your email address will not be published.