Social Distancing yang Disalahpahami Umat Islam di Tengah Pandemi Corona

Social Distancing yang Disalahpahami Umat Islam di Tengah Pandemi Corona

33 View

Opera Timur – Himbauan pemerintah, para pakar (ulama) dan tokoh yang menyebut agar kita menghindari ruang publik serta pertemuan yang melibatkan banyak orang (social distancing) untuk sementara waktu ternyata disalah-pahami secara serampangan oleh beberapa pihak, bil khusus umat Muslim. Padahal, tujuan dari himbauan itu sungguh sederhana: meminimalisir pesebaran virus corona (Covid-19).

Memang, umat Islam Indonesia termasuk golongan yang kelewat dirugikan oleh pesebaran virus Corona. Lha gimana, umat Islam itu merupakan umat komunal bin mayoritas. Ada banyak ritual yang melibatkan massa yang tidak sedikit, seperti: shalat lima waktu berjamaah, pengajian, dan tentu saja aksi bela-belaan.

Lalu, ketika pandemi corona merangsek ke negeri dengan populasi umat Islam terbesar di dunia, siapa yang paling sedih? Tentu saja umat Islam.

Kesedihan itu tampaknya semakin kaffah setelah, sekali lagi, jumhur ulama, ahli, dan pemerintah memilih bersepakat untuk menganjurkan agar umat Islam menahan diri dari pergi ke masjid, ntah untuk kepentingan sembahyang berjamaah atau melaksanakan shalat Jumat.

Lihat saja Prof. Quraish Shihab dalam unggahan Mba Najwa Shihab yang bilang kalau di masa-masa kritis menjadi terbukalah kemungkinan untuk mengganti Jum’atan dengan sembahyang Dzuhur di rumah masing-masing.

Juga, pada keputusan Pemprov DKI Jakarta melalui Gubernur Anies Baswedan yang secara spesifik telah menghimbau agar kita semua menggalakan social distancing, dan kepada segenap tempat ibadah, baik masjid, gereja, pura dan wihara untuk menghentikan kegiatan sementara waktu, sekurang-kurangnya selama dua pekan ke depan.

Meski begitu, ada beberapa umat Islam yang seolah menolak tunduk pada ketetapan semesta, ulama, dan pemerintah. Mereka seolah tak peduli kalau pandemi Corona benar-benar membuat orang jadi kalang-kabut. Mereka juga seolah merasa bodo amat kepada himbauan para ahli dan pemegang otoritas yang menegaskan kalau Covid-19 bisa berakibat fatal bagi keberlangsungan hidup manusia.

Bahkan, mereka juga seolah menutup telinga dari petuah ustaz seteras Felix Siauw yang sumpah samber gledek di luar perkiraan saya dia akan ngomongin soal social distancing sebagai prinsip wasathiyah agama untuk menghadapi pandemi Corona. Sungguh, fenomena ini ibarat 1:1000. Pertama kalinya mungkin dalam sejarah peradaban Muslim Indonesia, ustaz Felix Siauw satu suara dengan jumhur ulama, pemerintah—kendati secara eksplisit—, dan secara terpisah senada dengan Prof. Quraish Shihab.

Maka, habislah harapan kita untuk menyadarkan saudara seiman, kalau sama ustaz Felix saja mereka memilih beda sikap.

Kebebalan demi kebebalan sikap umat itu bisa disimak, misalnya, pada pernyataan Eks Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo yang menggaungkan gerakan memakmurkan masjid dan salat berjemaah di tengah meningkatnya wabah virus Corona (COVID-19) di Indonesia. Intinya, dia mengajak umat Islam agar meminta pertolongan kepada Allah, sembari membenturkan fenomena sekarang dengan lagu lama seperti negeri suspect komunis.

Atau, pada sebagian umat Islam yang ngotot menggelar ijtima besar-besaran di Gowa, Sulawesi juga merupakan bentuk lain dari ke-merasa-bodo-amat-an itu. Kendati pada akhirnya otoritas setempat membatalkan acara tersebut, senyatanya bejibun manusia telah merapat ke Gowa, dan bahkan keramaian itu memicu polemik di media sosial.

Tapi tak apa. Saya pikir, upaya untuk menantang takdir itu justru hendak membantah teori tentang virus Corona yang sedianya diyakini sebagai sekutu umat (atas perintah Tuhan) untuk menggilas musuh Islam. Dan, ya, kini situasinya jadi putar balik secara total.

Alhasil, belakangan ini pun menjadi gempita-lah narasi-narasi setamsil, “Jangan takut pada Corona, tapi takutlah kepada Allah”.

Atau, “Corona adalah makhluk Allah, yang takkan memberikan manfaat atau madharat apa pun tanpa izin Allah. Di manapun berada jika telah tiba waktunya mati, maka semua akan mati. Mati kini atau nanti sama saja.”

Plus, ada juga yang membandingkan Corona dengan bencana alam lain, seperti Tsunami di Aceh, semata untuk menjustifikasi betapa masjid adalah tempat yang aman dari segala marabahaya. (Belakangan, tweet tentang hal ini sudah dihapus dari peredaran oleh akun pengunggahnya)

Dan, paling menggelikan yang saya temui di linimasa media sosial adalah narasi konspiratif setamsil, “ mari tetap memakmurkan Masjid, karena Virus Corona adalah siasat setan menjauhkan umat dari Masjid.”

Ini sepertinya adalah improvisasi paling paripurna dari teori konspiratif lainnya, yang bilang kalau “virus Corona adalah senjata bilogis yang dimaksudkan untuk bla, bla, bla….”

Betapapun, dari sekian ontran-ontran narasi itu, pada intinya adalah sama. Ya, mereka sama-sama merasa heroik dan seolah kadar keimanannya akan mencelat laksana para sahabat Nabi yang menunggang kuda lalu merangsek barisan pertahanan musuh, menembus kecamuk perang dalam sebuah upaya menegakan keadilan dan kebenaran.

Padahal, situasinya pun kelewat berbeda. Perang itu musuhnya kelihatan. Demikian dengan bencana alam lain yang mitigasinya pun bisa dihitung secara matematis. Masalahnya, bagaimana dengan perang melawan pandemi wabah? Apakah kita akan menenteng peralatan laboratorium sepanjang jalan menuju masjid?

Tapi, mari kita ikuti cara berpikir kaum konspiratif itu. Sebutlah Virus Corona adalah agenda setan, musuh Islam, atau apalah itu untuk menjauhkan umat dari Masjid. Jika umat menegakan disiplin social distancing, lalu menjadikan mereka jauh dari rumah Allah, dan dengan demikian masjid akan menjadi sepi jama’ah, maka Islam akan mudah dipecundangi.

Namun, tahukah Anda, wahai para pengiman teori konspiratif, kalau memang benar virus Corona adalah agenda musuh Islam untuk memukul mundur umat Muslim, bukankah mereka justru akan lebih riang-gembira kalau kita berduyun-duyun menyesaki masjid, stadion, jalanan, atau fasilitas publik lainnya?

Kok bisa?

Begini. Pertama-tama, marilah kita bersepakat kalau virus Corona adalah makhluk renik, tidak kasat mata, yang menular dan pesebarannya kelewat sporadis, alias tidak terstruktur. Kedua, virus corona dapat menyebabkan setiap kita menjadi pesakitan, dan puncaknya menyebabkan kematian.

Nah, kita pun paham betul bilamana masjid adalah pusat peradaban umat Islam. Di sana umat Islam dapat berkumpul secara setara satu sama lain.

Hanya saja, dengan orang datang ke masjid, potensi pesebaran virus Corona akan makin melebar peluangnya. Jika pesebaran virus melebar, maka akan banyak umat yg tertular. Dan, jika banyak umat yg tertular, maka potensi membabat populasi umat Islam pun akan semakin tinggi.

Jadi, kalau antum memang masih mau ngotot mengimani bahwa corona adalah siasat busuk musuh Islam, maka pesan saya adalah lawanlah musuh Anda itu secara elegan, alih-alih dengan cara-cara jahiliyah yang nangudzubillah. [islmi]

Leave a Reply

Your email address will not be published.