Sejarah Sunan Maulana Malik Ibrahim (1379-1419) Pelopor Penyebaran Islam Di Tanah Jawa

Sejarah Sunan Maulana Malik Ibrahim (1379-1419) Pelopor Penyebaran Islam Di Tanah Jawa

73 View

Opera Timur – WALI SONGO – Pelopor penyebaran islam di tanah jawa syekh malik ibrahim, nama lengkap maulana malik ibrahim adalah Maulana Mahdum Ibrahim As-Samarkandi.

Dalam babad tanah jawi versi meinsma, asmarakandi merupakan pengucapan lidah jawa dari nama sebenarnya As-Samarkandi Maulana Malik Ibrahim, diperkirakan lahir di samarkand asia tengah, pada paruh pertama abad ke 14 M. Namun mengenai asal usul Maulana malik ibrahim ini ada beberapa versi lain pula, di antaranya berpendapat Syekh magribi ini berasal dari daerah magrib (Afrika Utara).

“Ada pula yang berpendapat dari gujarat dan bahkan ada yang mengatakan dari Campa, Akan tetapi berdasarkan pembacaan prasasti baris ke lima prasasti di makamnya, para sejana arkeologi lebih cendrung mengatkan Maulana Malik Ibrahim berasal dari Kashan (nama suatu tempat di daerah iran sekarang).

Maulana Malik Ibrahim juga disebut syekh magribi, atau sunan Gresik, bahkan di kalangan masyarakat dekat tempat tinggal Maulana Malik Ibrahim sering pula dipanggil sebagai kakek bantal. hal itu terjadi karena setiap Maulana malik ibrahim memberikan pengajaran atau pengajian, selalu meletakan kitab suci Al-Quran di atas bantal, dan Maulana Malik Ibrahim dipandang sebagai wali paling senior di antara para 9, sunan lainnya (Wali Songo).

Maulana Malik Ibrahim memiliki hubungan saudara dengan maulana ishak, seorang ulama’ terkenal di samudra pasai, Maulana Ishak adalah ayah dari sunan giri (Raden Paku). Ibrahim dan ishak adalah anak dari seorang ulama persia bernama maulana jumadil kubro, yang menetap di samarkand, Maulana jumadi kubro diyakini sebagai generasi ke-10 dari Husein bin ali, cucu Nabi Muhammad Saw.

Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di campa, sekarang Kamboja, selama 13 tahun mulai tahun 1379 hingga 1392 M. Dan menikah dengan putri raja campa, Dari perkawinan ini lahir dua putra yaitu Raden Rahmat (Dikenal Dengan Sunan Ampel). Dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri.
Maulana Malik Ibrahim berdakwah di campa sekitar 13 tahun dan setelah merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri campa itu, pada tahun 1392 M. Maulana Malik Ibrahim hijrah ke pulau jawa dan meninggalkan keluarganya di negeri Campa , Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya di sertai oleh beberapa orang, daerah yang ditujunya pertama kali yakni di desa sembalo daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan majapahit, desa sembalo sekarang adalah daerah leran kecamatan manyar, 9 kilometer utara kota gersik Jawa Timur.

Ada banyak cerita rakyat tentang cara Maulana Malik Ibrahim melakukan dakwahnya, cara yang ditempuhnya adalah dengan mendekati masyarakat dengan budi bahasa yang santun dan akhlaq mulia.

Malik Ibrahim tidak menentang secara tajam agama dan kepercayaan penduduk asli, serta adat istiadat mereka. Berkat keramah tamahan, budi bahasa dan pergaulannya yang santun itulah akhirnya banyak masyarakat yang kemudian tertarik masuk islam dan menjadi pengikutnya, selain itu secara khusus Maulana Malik ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis, sebagai tabib, kabarnya maulana malik ibrahimpernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari campa, besar kemungkinan permaisuru tersebut masih kerabat istrinya.

Ada cerita rakyat yang lain tentang bagaimana maulana malik ibrahim berdakwah. Diantaranya sebagai berikut.

Pada suatu malam penduduk desa tanggulangin sedang duduk-duduk menikmati suasana bulan purnama didatangi gerombolan perampok dibawah pimpinan tekuk penjalin, merekapun mengancam agar segera menyerahkan harta benda mereka atau akan dibakar seluruh isi desa, Di rengah suasana ketakutan yang mencekam itu datanglah malik ibrahim bersama para muridnya dan mencegah tindakan gerombolan perampok itu. Tekuk penjalin yang murka berusaha menyerang maulana malik ibrahim, namun cukup dilawan oleh salah seorang muridnya yang bernama ghafur dan tekuk penjalin dapat dikalahkan.

Tekuk penjalin yang merasa terhina dapat dikalahkan oleh salah seorang murid Maulana malik ibrahim bukannya meminta maaf dan bertobat tetapi justru meludahi wajah ghafur. Murid sunan malik ibrahim itu menjadi sangar marah kepada tekuk penjalin, namun ia tak mau membunuh pimpinan perampok itu dalam keadaan dirinya diliputi hati yang marah. Hal itu membuat tekuk penjalin dan pengikutnya terpaku dan kagum, dan kawanan perampok itu pun menyatakan penyesalannya dan bertobat, dan kemudian menjadi pengikut Maulana Malik Ibrahim.

Kisah lain menunjukan tetntang doa maulana malik ibrahim yang banyak dikabulkan Allah Swt. Suatu ketika masyarakat hendak menjadikan seorang gadis sebagai korban dalam upacara meminta hujan. Waktu itu upacara korban sudah akan di laksanakan, tetapi kemudian Maulana Malik Ibrahim datang dengan tutur kata yang lemah lembut berhasil mencegah tindakan itu. Maulana Malik Ibrahim pun kemudian memimpin murid-muridnya untuk salat Istisqa’ untuk memohon hujan, dan doa Maulana Malik Ibrahim pun dikabulkan hingga Turun hujan, dan penduduk setempat pun percaya ajaran Malik ibrahim dan bersedia menjadi pengikutnya.

Selain itu Maulana Malik Ibrahim juga mengajarkan cara-cara baru dalam bercocok tanam. Untuk melakukan pekerjaan tersebut, maulana malik ibrahim merangkul masyarakat bawah yang ketika itu tengah menderita krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di leran pada tahun 1419 M. Maulana Malik Ibrahim wafat dan dimakamkan di kampung Gapura Gersik Jawa Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *