Bagaimana Narasi Virus Corona dalam Media Keislaman Populer Indonesia?
islami.co

Bagaimana Narasi Virus Corona dalam Media Keislaman Populer Indonesia?

93 View

Eramuslim dan Nahimunkar

Media seperti Eramuslim (eramuslim.com), dan Nahimunkar (nahimunkar.org) dapat dijadikan satu model dalam mengangkat persoalan Corona. Eramuslim meskipun menyinggung sedikit aspek keislaman terkait dengan penyakit dalam artikel-artikel terbarunya, namun narasi Eramuslim terkait Corona lebih dominan mengkritik Pemerintah secara simultan.

Dari 24 berita yang diangkat di hari ini, ada 12 konten (berarti separuhnya) yang pada intinya mengaitkan persoalan Corona ini dengan kesimpulan Pemerintah tidak becus menangani hingga pemerintah Indonesia punya beban ekonomi dengan China. Persoalan China berulang-ulang diangkat mulai dari konten 45 orang TKA China tetap datang ke Indonesia hingga kesan Indonesia tidak mengambil sikap tegas terkait Corona karena punya beban psikologis dengan China. Sejumlah nama yang memang menyampaikan kritik seperti Adhi Massardie (Mantan Jubir Gus Dur), Sandiaga Uno, Rizal Ramli, dan M. Qodari rajin dikutip. Banyak dari judul yang bernada kritik disertakan dengan beritanya. Artinya, bentuknya kemudian menjadi opini. Dan ini yang juga paling menarik menurut kami. Semua konten yang berkomentar sumir terhadap pemerintah mengutip web Republik Merdeka (rmol.id). Sejumlah konten politik yang terdapat di dalamnya bernada kritik terhadap pemerintah. Meskipun demikian situs ini menulis sudah mendapatkan izin Dewan Pers sebagai perusahaan media profesional.

Nahimunkar juga memiliki narasi yang sama meski dalam penyajiannya tidak serapih Eramuslim Bisa dikatakan tidak serapih karena meski web ini tertulis “Website Berita Islam dan Aliran Sesat”, namun tidak ada redaksi yang jelas selain keterangan kalau web ini milik Ustz. Hartono Ahmad Jaiz. Sekedar mengingat bahwa nama Ustz. Hartono pernah booming ketika menulis buku “Ada Pemurtadan di IAIN” yang cukup menggemparkan umat muslim waktu itu. Waktu itu ia menyatakan merespon aliran liberal yang berkembang di kalangan dosen dan mahasiswa IAIN. Dampak buku itu cukup signifikan ketika sejumlah orang kemudian menaruh perasaan curiga bahkan menahan putra-putrinya untuk melanjutkan pendidikan di universitas-universitas di bawah Kementerian Agama itu.

Terkait dengan pemberitaan Corona, konten yang diberitakan hari ini banyak tentang pemberitaan pelaksanaan shalat jumat di berbagai daerah di Indonesia. Ini menarik karena Nahimunkar memilih sudut pandang kalau fatwa MUI tersebut maksudnya kalau daerah tempat yang kita tinggali belum ada bukti yang terkena virus, maka shalat jumat tetap dilaksanakan (Lihat: Corona Mengancam, MUI Riau Minta Masyarakat Tetap laksanakan Shalat Jumat di Masjid).

Beberapa tempat yang dijadikan contoh adalah Masjidil Haram, Riau, Sumatera Barat, Jawa Tengah (Masjid Agung), Bandung (Masjid al-Ukhuwwah), bahkan Masjid Agung Al-Azhar Jakarta. Contoh Al-Azhar ini menarik karena kemarin, Gubernur DKI Jakarta bersama Ketua DMI dan ketua MUI Jakarta sudah meminta masyarakat menunda dulu kegiatan keagamaan, termasuk shalat jumat dan jamaah bagi umat Islam selama dua minggu. Apalagi, Jakarta Selatan, tempat Masjid Al-Azhar berada, adalah daerah dengan korban dan Orang Dalam Pengawasan (ODP) terbanyak dibanding wilayah yang lain.

Konten keagamaan murni yang diangkat hanya Hukum Qunut Nazilah di Saat wabah Menyebar Kuat dan Khutbah Jumat Menyikapi virus Corona. Ini juga menarik untuk dicatat, hampir semua konten di atas dan amatan sederhana kami konten-konten lainnya juga, tidak ditulis sendiri namun copy-paste dari web-web lain, bahkan web berita mainstream seperti Tribunnews dan Kumparan. Sementara, konten asli tulisan Nahimunkar biasanya hanya judul dan pengantar untuk framing. Pemberitaan lain yang bernada menyerang adalah berita Corona di Iran dan ucapan ketua GP Anshor dan Imam Besar Masjid Istiqlal yang mengatakan kalau Corona ini tidak bisa disebut azab.

Leave a Reply

Your email address will not be published.