Bagaimana Narasi Virus Corona dalam Media Keislaman Populer Indonesia?
islami.co

Bagaimana Narasi Virus Corona dalam Media Keislaman Populer Indonesia?

184 View

Opera Timur – Bagaimana opini sejumlah media keislaman di Indonesia tentang Corona/Covid-19 ? Ini penting untuk diamati karena sejak awal kemunculan berita terkait kemunculan virus Corona, narasi keagamaan – dalam hal ini narasi keislaman – tidak pernah tidak ikut serta. Mulai dari yang narasinya menyalahkan satu pihak hingga yang menjadi lawan dari sikap tersebut seperti “Corona adalah Tentara Allah untuk orang-orang kafir yang menzalimi orang muslim” sampai ajakan untuk berpikir jernih bahwa penyakit pada dasarnya adalah “cobaan dan takdir Tuhan”.

Narasi ikut berubah seiring dengan perkembangan virus yang belum ditemukan obatnya secara spesifik ini ketika sejumlah negara muslim ikut terjangkit. Ada yang menyalahkan negara asal pembawa virus atau mendukung penuh semua rekomendasi negara terkait penanggulangan virus lewat menyertainya lewat dalil-dalil keagamaan. Ini biasanya dilakukan oleh situs institusi kemuftian yang memang menjadi mitra atau di bawah Pemerintah atau situs yang memang sejak lama tidak menunjukkan sikap oposisi yang sangat jelas bahkan keras terhadap pemerintah.

Saya ingin katakan di awal bahwa bisa jadi dalam tulisan ini ada kekurangan karena saya hanya mengambil contoh secara acak saja dari beberapa situs keislaman. Dari sisi analisanya, saya hanya akan menjelaskan secara deskriptif. Menganalisa web dari segi narasi kontennya bukan hal yang baru dilakukan. Karena dengan menganalisa konten keislaman di Internet, para ahli kemudian menemukan bahwa sifat Internet yang terbuka bagi siapapun dan menembus batas-batas konvensional seperti negara bahkan otoritas keagamaan yang eksis ketika di ruang offline, menjadi hilang ketika dalam konteks online. Peter Mandaville (2001); Gary R. Bunt (2003) dalam Islam in the Digital Age dan Alexis Kort (2005) dalam Dar al-Cyber Islam: Women, Domestic Violence, and Islamic Reformation and The World Wide Web adalah diantara ahli yang menyadari pentingnya hal itu diamati.

Batasan media Islam juga hanya diputuskan standarnya secara sederhana, yaitu situs yang selama ini sudah dikenal sebagai media keislaman. Namun, kami juga membatasinya menjadi media yang tidak menyatakan sebagai media yang terafiliasi ke ormas tertentu meskipun mungkin pada narasi dan ideologi mungkin sama. Maka media yang dijadikan contoh adalah Almanhaj dan Rumaysho, Eramuslim, Nahimunkar, Bincangsyariah, dan Islami.co. Enam website ini punya kecenderungan yang khas tapi yang menjadi persamaannya adalah, keenamnya tidak menyatakan adalah representasi dari ormas tertentu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *