KH Maimoen Zubair dinilai layak menjadi teladan di bidang keagamaan dan politik.

KH Maimoen Zubair dinilai layak menjadi teladan di bidang keagamaan dan politik.

179 View

Opera Timur – Umat Islam Indonesia kehilangan ulama kharismatiknya, KH Maimoen Zubair yang biasa dipanggil Mbah Moen pada musim haji tahun lalu. Mbah Moen baruberpulang ke rahmatullah di Tanah Suci Makkah pada 6 Agustus 2018 lalu, tepatnya pada pukul 14.17 WIB.

Dalam sejarah hidupnya, Mbah Moen tidak hanya memiliki kharisma di kalangan para ulama, tapi juga sangat dihormati oleh para politisi nasional. Karena itu, Mbah Moen layak menjadi teladan di bidang keagamaan dan politik.

KH Maimoen Zubair lahir di Sarang, Rembang, Jawa Tengah, pada 28 Oktober 1928. Maimoen merupakan putra pertama Kiai Zubair Dahlan, seorang ulama yang pernah berguru pada Syaikh Said al-Yamani serta Syaikh Hasan al-Yamani al-Makky. Ibunya, Nyai Mahmudah adalah putri dari Kiai Ahmad bin Syu’aib, pendiri Pesantren al-Anwar Sarang Rembang.

Dalam buku berjudul “3 Ulama Kharismatik Nusantara”, dijelaskan bahwa keilmuan dan kealiman Kiai Zubair diakui hingga ke negeri jiran. Beliau adalah sosok guru yang telah melahirkan banyak ulama di tanah air, meskipun tidak memiliki pesantren sendiri. Kedalaman ilmu agama orang tuanya itu menjadi basis pendidikan agama Maimoen.

Sejak kecil, Maimoen didik oleh orang tuanya secara langsung. Pada 1945, Maimoen kemudian melanjutkan belajar agama di Pesantren Lirboyo, Kediri, di bawah bimbingan KH Abdul Karim. Selama di Lirboyo, Maimoen juga mengaji kepada KH Mahrus Ali.

Maimoen adalah santri yang cerdas. Dalam masa belajarnya, Mbah Moen sudah hafal beberapa kitab yang kerap diajarkan di pesantren, seperti kitab Al-Jurumiyah, Imrithi, Alfiyah Ibnu Malik, Matan Jauharot Tauhid, Sullamul Munauroq, serta Rohabiyyah fil Faroidh.

Tidak hanya itu, Maimoen juga menguasai kitab-kitab fiqih mazhab Syafii, seperti kitab Fathul Qarib, Fahul Muin, Fathul Wahab, dan kitab-kitab lainnya. Pada umur 21 tahun, Maimoen melanjutkan studinya ke Makkah dan sempat belajar pada ulama berjulul Musnid Dunya, Syekh Yasin Al Fadani.

Setelah itu, Maimoen juga meluangkan waktunya untuk mengaji ke beberapa ulama di Jawa, di antaranya Kiai Baidhowi, KH Ma’shum Lasem, KH Wahab Chasbullah, KH Muslih Mranggen (Demak), dan beberapa kiai lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.