viva.co.id

Kekurangan APD, Tenaga Medis Pakai Jas Hujan Hingga Plastik Sampah

22 View

Opera Timur – Jumlah pasien virus corona yang terus melonjak membuat petugas medis turut kewalahan. Bahkan, kondisi ini membuat para petugas medis kekurangan alat pelindung diri (APD), hingga tak sedikit dokter yang tertular dan akhirnya menjadi korban dari keganasan virus corona itu.

Tercatat, enam dokter di Indonesia meninggal karena tertular COVID-19 dari pasien-pasien yang mereka tangani. Setelah ditelusuri, beberapa petugas medis menyatakan penyebab kematian mereka, salah satunya karena minimnya alat pelindung diri.

Dokter Pandu Priono

Melalui akun Twitter, dr. Pandu Priono, yang tidak lain merupakan adik ipar dari dr. Djoko Judodjoko, mengucapkan bela sungkawa atas kematian kakak tercintanya yang telah berjuang secara aktif memberikan pelayanan pada pasien COVID-19.

Dalam cuitannya, Pandu turut mengeluhkan minimnya APD, sehingga mengakibatkan banyak petugas kesehatan yang terinfeksi virus corona dan akhirnya meninggal.

“Selamat jalan mas Koko, maafkan saya belum berhasil mendorong agar pemerintah @jokowi serius mengatasi pandemi covid19. mas terinfeksi karena aktif beri layanan. Banyak petugas kesehatan yang terinfeksi & pergi, minimnya APD sulit dimaafkan. Tidak cukup bicara, kita semua berbuat,” tulis @drpriono, di Twitter.

https://twitter.com/drpriono/status/1241309369997750274?s=20

Petugas medis gunakan jas hujan plastik

Turut merespons unggahan dr. Pandu Priono, akun @moamerasumitro, juga mengunggah video para petugas medis di RSUD Lanto DG Pasewang, Sulawesi Selatan, yang memakai APD dari jas hujan plastik. Dalam video tersebut, tertulis caption “Kami butuh APD pak @jokowi Bukan pujian.”

Ketua IDI Kota Bogor, dokter Zainal Arifin

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Bogor, dokter Zainal Arifin, juga mengatakan alat pelindung diri (APD) untuk tenaga medis masih kurang untuk menangani pasien virus corona.

“Sekarang mengenai APD tenaga medis, sebenarnya mau jujur sih kurang optimal ya, kalau kita lihat itu perlengkapan untuk alat perlindungan diri memang kurang memadai. Tapi kita bilang kekurangan tidak juga, maksudnya, mungkin faktor lain frekuensi kunjungan pasien, komplit lah masalah. Kalau dibilang kurang APD enggak juga,” kata Ketua IDI Kota Bogor dokter Zainal Arifin, kepada VIVAnews.

Petugas medis gunakan kantong plastik sampah

Akun Instagram @mestyariotedjo, juga turut mengungkapkan keprihatinannya. Dalam unggahannya, ia mengatakan kalau rekan sejawatnya terpaksa menggunakan alat pelindung diri (APD) yang terbuat dari kantong plastik sampah.

“Prihatin sekali melihat keadaan nyata di lapangan, rekan sejawat memakai alat tempur yang sangat tidak layak, kantong plastik sampah. Semua sejawat bekerja keras semampunya, bahkan membahayakan diri mereka sendiri,” tulisnya di Instagram.

Namun, tidak diketahui tenaga medis di mana yang menggunakan APD tersebut. Dan entah unggahan ini benar atau tidak, karena akun tersebut tidak menyematkan keterangan apapun mengenai petugas medis yang menggunakan APD tidak layak tersebut.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Mesty Ariotedjo Juanda (@mestyariotedjo) pada

Puskesmas Kalideres menjerit APD kurang

Salah satu pegawai di Puskesmas Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, menceritakan bahwa APD langka dan sulit jika mengandalkan dana pemerintah.

“Pembelian APD memang ada dana dari pemerintah dan kita punya rekanan sendiri untuk membelinya. Sekarang, entah di rekanan habis atau tinggi harganya atau dananya over budget atau bagaimana, kami sulit dapat APD,” kata pegawai tersebut kepada VIVA melalui pesan WhatsApp, Minggu malam, 22 Maret 2020. [viva]

Leave a Reply

Your email address will not be published.