Ikhlas Dalam Pernikahan, Dan Mempersiapkan Diri Dalam Pernikahan

Ikhlas Dalam Pernikahan, Dan Mempersiapkan Diri Dalam Pernikahan

166 View

Opera TimurMENIKAH itu memiliki urgensi yang besar dan essensi yang sangat kuat. Di dalamnya terdapat aliran energi positif yang semakin kita menerimanya dengan ikhlas, maka semakin pula energi itu akan mengalir dengan derasnya.

Keikhlasan kita dalam menjalani pernikahan akan mendatangkan rasa sakinah atau ketentraman pada hati kita. Namun kita ini manusia yang lemah, kita butuh proses untuk sampai pada tahap ikhlas tersebut. Karena memang bukan sesuatu yang mudah untuk membangun konstruksi rumah tangga dengan sedikit cela di dalamnya.

  • Kenangan Yang Terindah Sesungguhnya Saat Susah Di Awal pernikahan
  • Ditinggal Kerja di Korea Istri Hamil, Rumah Seharga 600 Juta Dihancurkan Pakai Bego di Ponorogo
  • Kisah Turiyan, Hidup Mandiri Meski Alami Lumpuh 47 Tahun Bermula Saat Kelas 2 SD
  • Ibu di Tapsel Sumut Tega Pukul Kepala Bayinya Hingga Penyok

Sungguh merugi tatkala pernikahan yang disebut sebagai ibadah terpanjang, dimana kita memiliki kesempatan untuk meraih keberlimpahan pahala, tidak kita iringi dengan keikhlasan dalam hati kita. Karena ketidakikhlasan, ujian yang seharusnya ringan dipikul berdua, seakan menjadi beban berat tak berkesudahan.

Pahami hakikat pernikahan sesungguhnya, luruskan niat hanya untuk meraih derajat taqwa. Jadikan keimanan kepada Allah SWT sebagai pondasi utama di atas segalanya, maka rumah tangga yang dibangun bersama, akan kokoh dalam balutan keridhaanNya.

Ikhlas menjadi istri, maka akan ikhlas dalam mentaati suami. Ikhlas menjadi suami, maka akan ikhlas dalam memuliakan istri. Kesiapan keduanya untuk membina dan dibina dalam rangka meningkatkan ketaatan mereka kepada Allah SWT, akan menghadirkan surga pada rumah tangga yang tengah dijalani.

Menikah adalah menyempurnakan separuh agama, ia menjadi salah satu keutamaan menikah yang luar biasa, maka mari berjuang menyempurnakan separuhnya lagi dengan totalitas kita dalam beribadah kepadaNya.

Menikah adalah penyatuan dari banyaknya perbedaan. Perbedaan yang bersifat tidak memisahkan, melainkan perbedaan yang justru menyatukan, maka terimalah segala perbedaan itu sebagai bentuk keyakinan untuk selamanya bersatu, Insyaa Allah bahagia pun bisa selalu kita ciptakan. [islmps]

Kesiapan Diri Untuk Menikah

KESIAPAN diri untuk menikah, memang tidak terpaku dari usia. Ada yang usianya sudah lebih dari cukup tapi ia belum memiliki kesiapan untuk menikah, namun ada juga yang usianya masih terbilang muda, tapi ia telah siap untuk melangkahkan kaki menuju pernikahan.

Dalam kondisi yang terjadi di atas, bukan berarti kita membenarkan sebutan pernikahan sebagai ajang perlombaan, yang mana siapa lebih dulu menikah, maka ia lah yang lebih baik dari mereka yang belum menikah. Hindari pemikiran tersebut, tetap tumbuhkan sikap toleransi kita terhadap sesama.

  • Jangan Biasakan Dirimu Mengeluh Tentang Hidupmu yang Sulit, Kamu Harus Sabar dan Tetap Tegar
  • Subhanallah, Viral: Polisi Jadi Imam Sholat Para Narapidana (Napi) Di Dalam Tahanan
  • Mahasiswa di Makassar Video Call Mantan Pacar Agar Dilihat Gantung Diri

Usia memang bukan patokan untuk mengukur kadar kesiapan menikah pada diri seseorang. Karena kesiapan penting untuk menikah, tidak hanya semata dilihat dari usia, melainkan dari kesiapan ilmu dan mental yang ia miliki.

Ketahuilah, menikah adalah keputusan terbesar dalam hidup yang akan mampu mengubah hidup kita. Entah itu menjadi lebih baik, atau justru sebaliknya. Semua itu tergantung dari seserius apa kita menyiapkan diri dalam proses belajar menuju kesana.

Maka, perbanyaklah mempelajari ilmu pernikahan, tentang bagaimana islam telah mengatur segala aspeknya dengan sangat sempurna. Yakinlah, kesungguhan kita untuk belajar, akan kita cicipi hasilnya saat kita menginjakan kaki di sebuah rumah, bernama rumah tangga.

Rumah tangga akan berjalan dengan baik ketika pasangan suami istri sama-sama memahami apa yang menjadi hak dan kewajibannya masing-masing. Suami memiliki hak atas istrinya, istri memiliki hak atas suaminya, keduanya pun sama-sama memiliki kewajiban yang harus mereka tunaikan satu sama lain.

Namun, sering kali manusia dibalut oleh hawa nafsu dan dipenuhi dengan rasa egonya sendiri, yang pada akhirnya menjadikan dirinya lebih banyak menuntut hak pada pasangannya, ketimbang menunaikan apa yang sudah menjadi kewajibannya.

Keberkahan dari Allah adalah tujuan yang ingin dicapai oleh sepasang suami istri yang melandaskan cintanya kepada Allah. Percayalah, kita tidak akan merugi tatkala kita menunaikan kewajiban kita lebih banyak dari semestinya, dan mengambil hak kita lebih sedikit dari yang seharusnya. Itu menjadi bentuk ikhtiar kehati-hatian kita dalam menjalani amanah-amanah yang kita miliki. [islmp]

Leave a Reply

Your email address will not be published.