Dampak Corona, Lantunan Adzan Dibebaskan di Masjid-masjid Eropa

Opera Timur – Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencegah persebaran virus corona. Selain pemerintah yang membuat berbagai kebijakan, dukungan moral dari sesama manusia juga diperlukan.

Dengan adanya dukungan moral tersebut membuat mental orang lain juga akan kuat menghadapi musibah yang sedang menyerang. Baru-baru ini di Eropa pemerintah juga mengupayakan hal tersebut.

Menguatkan mental warga, khususnya warga muslim setempat dengan cara mengumandangkan adzan. Seperti layaknya di negara-negara muslim di Timur Tengah, adzan yang berkumandang di Eropa tersebut dikumandangkan melalui pengeras suara yang berada di masjid.

Adzan yang dikumandangkan hampir 100 masjid di Jerman dan Belanda merupakan bentuk dukungan kepada umat muslim saat menghadapi corona.

Hal itu dilakukan oleh dua masjid di bawah naungan Islamic National View dan Asosiasi Muslim Turki (DITIB).

Dilansir dari Anadolu Agency, Fahrettin Alptekin seorang perwakilan DITIB membenarkan jika adzan yang didengar adalah suara yang berasal dari 50 masjid lokal.

Padahal diketahui bahwa di Jerman, suara adzan yang dilantunkan melalui pengeras suara dilarang. Kecuali saat ada acara khusus.

Sedangkan di Belanda, adzan berkumandang untuk memberikan semangat moral bagi warga muslim dalam menghadapi wabah virus corona.

Hal tersebut membuat warganya keluar rumah dan bersuka cita sebagai ungkapan rasa syukurnya. Kumandang takbir juga tidak ada hentinya mereka kumandangkan.

“Subhanallah, Allahu Akbar. Suatu yang sangat jarang terjadi,” ungkap mereka.

Hal yang bersejarah terjadi di Masjid Darussalam yang berada di Jerman. Masjid tersebut melakukan kerja sama dengan salah satu gereja yang berdekatan untuk melakukan aksi solidaritas menghadapi wabah virus corona.

Aksi solidaritas tersebut dinamai “Ich höre Deinen Ruf- Gebetsruf als Zeichen des Zusammenhalts in der Corona-Krise” yang artinya Aku dengar panggilan-Mu sebagai Tanda Persatuan dalam Krisis Corona.

Karena aksi solidaritas tersebut Masjid Darussalam bisa mengumandangkan adzan sehari satu kali dan setiap jumat sehari dua kali. Pada pukul 18.00 dan setiap hari Jumat pukul 13.30. Disaat yang bersamaan pihak gereja juga membunyikan loncengnya.

Hal tersebut membuat beberapa warga berbondong-bondong datang ke masjid dan gereja untuk mengabadikan momen tersebut dengan telepon genggamnya.

Walaupun begitu, pihak masjid dan gereja tetap mengimbau kepada warga untuk tidak berkumpul di satu tempat terbuka dan mematuhi aturan untuk melakukan karantina diri di rumah.

Sementara itu, kota dengan penduduk muslim paling banyak di Eropa adalah Brussel atau Ibu Kota Belgia. Hal tersebut dibuktikan pada buku yang ditulis oleh Felice Dassetto seorang ahli sosiologi. Dirinya memprediksi pada 2030 Brussel akan menjadi kota yang mayoritas warganya adalah muslim.

Saat ini penduduk Brussel yang beragama Islam berjumlah 300 ribu orang. Hal itu juga kemudian berpengaruh terhadap pola kehidupan warga Brussel yang menjurus kepada norma-norma Islam.

Agama Islam di Belgia merupakan agama minoritas. Agama yang paling banyak dianut di Belgia adalah Kristen. Meski begitu di Belgia tidak pernah ada program sensus etnik karena dengan membuat statistik etnik akan mengurangi rasa kebangsaan warga Belgia.

Saat menghadapi pandemi corona, pemerintah di Belgia pun memperbolehkan masjid setempat untuk mengumdangkan adzan. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan moral sesama manusia. [Merdeka]

Tinggalkan komentar