Kisah Rasulullah Ketika Diganggu dan Disakiti

5 Cara Menjaga Daya Tahan Tubuh Sesuai Sunnnah Nabi Muhammad Saw

34 View

Opera Timur – Mengapa Nabi Muhammad jarang sakit? Pertanyaan ini menarik untuk dikemukakan. Secara lahiriah, Rasulullah SAW jarang sakit karena mampu mencegah hal-hal yang berpotensi mendatangkan penyakit.

Dengan kata lain, beliau sangat menekankan aspek pencegahan daripada pengobatan. Jika kita telaah Alquran dan sunah, maka kita akan menemukan sekian banyak petunjuk yang mengarah pada upaya pencegahan.

[irp]

Hal ini mengindikasikan betapa Rasulullah SAW sangat peduli terhadap kesehatan. Dalam Shahih Bukhari saja tak kurang dari 80 hadis yang membicarakan masalah ini. Belum lagi yang tersebar luas dalam kitab Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Tirmidzi, Baihaqi, Ahmad, dan sebagainya.

Ada beberapa kebiasaan positif yang membuat Rasulullah SAW selalu tampil fit dan jarang sakit, berikut ini di antaranya:

*Makan

Dikutip dari Jejak Sejarah Kedokteran Islam, karya Dr Ja’far Khadem Yamani, pertama, Nabi Muhammad, selektif terhadap makanan. Tidak ada makanan yang masuk ke mulut beliau, kecuali makanan tersebut memenuhi syarat halal dan thayyib (baik). Halal berkaitan dengan urusan akhirat, yaitu halal cara mendapatkannya dan halal barangnya.

[irp]

Sedangkan tayib berkaitan dengan urusan duniawi, seperti baik tidaknya atau bergizi tidaknya makanan yang dikonsumsi. Salah satu makanan kegemaran Rasul adalah madu. Beliau biasa meminum madu yang dicampur air untuk membersihan air lir dan pencernaan. Rasul bersabda, “Hendaknya kalian menggunakan dua macam obat, yaitu madu dan Alquran” (HR Ibnu Majah dan Hakim).

Kedua, tidak makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Aturannya, kapasitas perut dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu sepertiga untuk makanan (zat padat), sepertiga untuk minuman (zat cair), dan sepertiga lagi untuk udara (gas).

[irp]

Disabdakan: ”Anak Adam tidak memenuhkan suatu tempat yang lebih jelek dari perutnya. Cukuplah bagi mereka beberapa suap yang dapat memfungsikan tubuhnya. Kalau tidak ditemukan jalan lain, maka (ia dapat mengisi perutnya) dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk pernafasan” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

Ketiga, makan dengan tenang, tumaninah, tidak tergesa-gesa, dengan tempo sedang. Apa hikmahnya? Cara makan seperti ini akan menghindarkan tersedak, tergigit, kerja organ pencernaan pun jadi lebih ringan. Makanan pun bisa dikunyah dengan lebih baik, sehingga kerja organ pencernaan bisa berjalan sempurna. Makanan yang tidak dikunyah dengan baik akan sulit dicerna. Dalam jangka waktu lama bisa menimbulkan kanker di usus besar.

[irp]

2. Tidur

Nabi Muhammad cepat tidur dan cepat bangun. Beliau tidur di awal malam dan bangun pada pertengahan malam kedua. Biasanya, Rasulullah SAW bangun dan bersiwak, lalu berwudhu dan shalat sampai waktu yang diizinkan Allah.

Beliau tidak pernah tidur melebihi kebutuhan, namun tidak pula menahan diri untuk tidur sekadar yang dibutuhkan. Penelitian Daniel F Kripke, ahli psikiatri dari Universitas California menarik untuk diungkapkan.

[irp]

Penelitian yang dilakukan di Jepang dan AS selama 6 tahun dengan responden berusia 30-120 tahun mengatakan bahwa orang yang biasa tidur delapan jam sehari memiliki risiko kematian yang lebih cepat.

Sangat berlawanan dengan mereka yang biasa tidur 6-7 jam sehari. Nah, Rasulullah SAW biasa tidur selepas Isya untuk kemudian bangun malam. Jadi beliau tidur tidak lebih dari delapan jam.

[irp]

Cara tidurnya pun sarat makna. Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam buku Metode Pengobatan Nabi mengungkapkan bahwa Rasul tidur dengan memiringkan tubuh ke arah kanan, sambil berzikir kepada Allah hingga matanya terasa berat.

Terkadang beliau memiringkan badannya ke sebelah kiri sebentar, untuk kemudian kembali ke sebelah kanan. Tidur seperti ini merupakan tidur paling efisien. Pada saat itu makanan bisa berada dalam posisi yang pas dengan lambung sehingga dapat mengendap secara proporsional.

[irp]

Lalu beralih ke sebelah kiri sebentar agar agar proses pencernaan makanan lebih cepat karena lambung mengarah ke lever, baru kemudian berbalik lagi ke sebelah kanan hingga akhir tidur agar makanan lebih cepat tersuplai dari lambung. Hikmah lainnya, tidur dengan miring ke kanan menyebabkan beliau lebih mudah bangun untuk shalat malam.

Nabi Muhammad juga memiliki tradisi tidur siang sejenak. Dr Ade Hashman Sp.An, dalam bukunya yang berjudul Rahasia Kesehatan Rasulullah menuliskan, ketika menjelang Zuhur, Nabi memiliki tradisi tidur siang sejenak. Tidur yang memberi kepuasan dan ketenangan pada tubuh yang didera kelelahan dan memberi kebugaran kembali untuk beraktivitas.

[irp]

Tidur singkat demikian dimaksudkan Nabi untuk reserve. “Lakukanlah sahur untuk berpuasa dan tidur siang sejenak untuk shalat malam.” (HR Ibnu Khuzaimah).

Setelah tujuh jam bekerja, tubuh berada pada konsentrasi dan aktivitas terendah. Bila seseorang mengabaikan tidur pada waktu tersebut, banyak terjadi penurunan kemampuan pada sistem otot dan sarafnya, sepanjang hari.

[irp]

“The NSF (The National Sleep Foundation) merekomendasikan untuk tidur siang sejenak sekitar 15 hingga 20 menit,” tulis dr Ade Hashman.

3. Minum

Nabi Muhammad SAW memberikan contoh yang baik saat minum. Beliau tidak minum sambil berdiri, tapi sambil duduk. Selain itu, Rasulullah SAW juga melarang minuman yang masih panas ditiup ataupun bernapas di dalam gelas.

Suatu hari, Khalifah Marwan bin Hakam bertemu dengan Abu Said al-Khudry. Marwan bertanya, “Apakah engkau mendengar Rasulullah SAW melarang meniup air minum?”

Kemudian Said menjawab, “Benar.” Rasulullah memang tidak pernah bernapas saat minum. Rasulullah juga tidak pernah meniup air panas yang akan diminumnya agar menjadi dingin. Hal demikian dilakukan untuk menghindari jatuhnya kotoran yang berasal dari dalam perut, kemudian keluar melalui mulut ataupun hidung.

[irp]

Itulah sebabnya mengapa Rasulullah melarang melakukan hal-hal demikian. Beliau bersabda, “Jika kalian minum, maka janganlah mengambil napas dalam air minumnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Anas bin Malik RA juga menceritakan pernah melihat Rasulullah mengambil napas sebanyak tiga kali di luar gelas, kemudian barulah beliau meminum air tersebut. Anas kemudian menanyakan, “Kenapa Rasulullah melakukan hal demikian?”

Rasulullah kemudian menjawab, karena yang dilakukannya itu jauh lebih segar, lebih enak, dan lebih nikmat. Rasulullah juga mengatakan, jika memang di antara umatnya ada yang terpaksa harus bernapas maka dianjurkan supaya mengangkat gelas itu terlebih dahulu dan menjauhkannya dari mulut. Setelah itu, Rasulullah juga menganjurkan supaya menutup gelas tersebut untuk menghindari jatuhnya segala macam penyakit masuk ke dalam gelas.

[irp]

Selain melarang meniup atau bernapas di dalam gelas, Rasulullah juga melarang meminum air langsung dari teko atau tempat air minum. Karena, meminum dengan cara seperti itu dapat membuat orang tersebut terengah-engah bernapas di dalam wadah air, dan juga tidak bisa mengatur seberapa banyak air itu masuk ke dalam mulut.

Karena itu, dalam sebuah hadis Rasulullah mengatakan, “Janganlah kalian minum pada satu bejana dengan satu kali teguk, sebagaimana minumnya keledai. Namun minumlah dalam dua teguk-dua teguk, atau tiga teguk-tiga teguk. Sebutlah nama Allah ketika kalian hendak minum, dan ucapkanlah Alhamdulillah ketika lepas dahaga kalian.” (HR. Bukhori).

[irp]

Suatu hari, Anas dan Qatadah menemui Rasulullah. Keduanya pun bertanya kepada beliau, “Bolehkah minum sambil berdiri?”

Menjawab pertayaan para sahabat, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian minum sambil berdiri, barang siapa lupa hendaklah dia memuntahkannya.” (HR. Muslim).

Mengapa Rasulullah melarang hal demikian? Tentu saja ada manfaat di baliknya dan hal itu bisa memberikan kemanfaatan juga pada tubuh manusia. Jika minum sambil berdiri maka air akan masuk ke tubuh tanpa ada proses penyaringan terlebih dahulu. Tapi, saat minum dengan duduk, air akan disaring terlebih dahulu kemudian dialirkan pada pos-pos penyaringan sebelum masuk ke ginjal.

[irp]

4. Wudhu

Dalam sebuah hadis disebutkan, Rasulullah mendengar suara sandal Bilal bin Rabah di surga. “Wahai Bilal, mengapa engkau mendahuluiku masuk surga? Aku tidaklah masuk surga sama sekali, melainkan aku mendengar suara sandalmu di hadapanku. Aku memasuki surga di malam hari dan aku mendengar suara sandalmu di hadapanku,” tanya Rasulullah SAW.

Bilal menjawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak pernah mengerjakan amalan yang menurutku besar pahalanya, tapi aku tidak wudhu pada waktu malam dan siang, melainkan aku akan menunaikan shalat yang diwajibkan bagiku untuk mengerjakannya.” (HR Tirmidzi).

[irp]

Jadi, selain selalu mengerjakan shalat sunah wudhu dua rakaat, Bilal juga selalu menjaga wudhu, yakni setiap batal, dia akan langsung berwudhu kembali.

Dalam hadis lainnya, Nabi bersabda: “Umatku (Kelak di hari kiamat) akan dipanggil putih bersinar karena bekas wudhuhnya (di dunia dulu).” (HR Bukhari)

dr Ade Hashman. SP.An dalam bukunya yang berjudul Rahasia Kesehatan Rasulullah menjelaskan, wudhu merupakan pembasuhan dan pengenceran populasi mikroorganisme sehinga menurunkan risiko penyimpangan oportunistik. Di samping itu, wudhu juga memfasilitasi regenerasi kulit dan selaput lendir, yaknis pergantian sel-sel lama dan baru.

[irp]

Kestabilan kulit ditentukan oleh pH (derajat keasaman) dan kelembaban. Bersuci (wudhu) merupakan salah satu metode menjaga kestabilan tersebut. Khususnya kelembaban kulit. Kulit yang kering akan berbahaya bagi kesehatan kulit terutama mudah terinfeksi kuman.

Dimulai dengan mencuci tangan
Kemampuan motorik dan sensoril dari tangan begitu kompleks karena telapak tangan manusia merupakan bagian tubuh yang palinhg fleksibel dan memiliki interaski terbanyak dengan dunia luar. Ketika bersalaman, menggenggam, menyentuh sesuatu, atau kemampuan lentik jari yang menakjubkan dari seorang pianis, tangan manusia tentu akan kontak langsung dengan segala macam benda di sekelilingnya.

Disinyalir, lebih dari 70 persen penyakit infeksi (penyakit yang disebabkan virus, bakteri, jamur, atau cacing), disebabkan oleh kontaminasi lewat kontak dengan tangan. Dalam dunia medis, protokol standar pertama sebelum bekerja juga dimulai dengan mencuci tangan dan membilasnya dengan sabun, khususnya bila hendak melakukan operasi atau tindakan medis invasif. “Wudhu dimulai dengan mencuci kedua telapak tangan,”kata dr Adh Hashman.

Berkumur-kumur
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Dawud disebutkan, “Apabila berwudhu hendaklah engkau berkumur-kumur.” Menurut dr Ade Hashman, berkumur-kumur melindungi mulut dan tenggorokan dari inflamasi dan mebersihkan gigi dari sisa makanan.

Istinsyaq
Istinsyaq atau menghirup air ke dalam hidung lalu dibuang kembali, merupakan suatu perbuatan yang mungkin tidak akan pernah dilakukan orang (apalagi secara rutin), kecuali jika ia berwudhu. Menurut ahli bedah tumor, Dr Bahar Azwar, SP.B.Onk, jika terdapat tumor yang letaknya tersembunyi di dalam hidung maka aliran air di dalam hidung yang menyapu area nasofaring tersebut akan menimbulkan pendarahan. Dengan demikian, kegiatan ini merupakan deteksi dini bagi penderita tumor di daerah nasofaring.

Struktur jalan nafas melalui hidung merupakan basis pertahanan pertama pernapasan dan merupakan wilayah yang terbuka langsung dengan dunia luar. Dalam rongga hidung juga dihuni banyak kuman, seperti streptoccus, pneumonia, neisseria, dan hermophilus sp, sehinga di samping saluran pencernaan, saluran pernapasan merupakan pintu masuk yang sangat mudah bagi banyak penyakit infeksi.

[irp]

Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) dipastikan merupakan penyakit terbanyak (No 1 dari 10 besar penyakit) yang diderita masyarakat yang terdata di berbagai Puskesmas.

“Dengan istinsyaq maka ada upaya membersihkan selaput dari lendir hidung yang mungkin terkontaminasi oleh udara kotor serta kuman,”kata dr Ade Hashman.

Membasuh wajah
Membasuh wajah membersihkannya dari sisa kotoran yang melekat dari sekret yang dikeluarkan oleh kelenjar kulit, juga mengeliminasi mikroorganisme. Sisa sekret biasanya mudah menjadi media pertumbuhan bakteri.

Membasuh kedua tangan dan kaki
Membasuh (termasuk) membersihkan telapak kaki penting untuk mencegah berbagai infeksi kuman. Khususnya, di negara berkembang. Sementara untuk membasuh tangan, memutus transmisi jalur infeksi fekal oral.

[irp]

5.OLah raga

Riyadhah atau olahraga dalam Islam sebenarnya tak hanya digunakan untuk istilah olah tubuh untuk kebugaran, tapi juga untuk olah jiwa. Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah (1292-1350 M) dalam bukunya, Zad al-Ma’ad, menekankan pentingnya berolahraga dan efeknya pada tubuh. Bagaimana olahraga memperkuat dan membentuk imunitas tubuh terhadap penyakit.

Salim al-Hassani dalam artikelnya “A 1000 Years Amnesia: Sports in Muslim Heritage” mengungkapkan, selain sains dan teknologi, banyak yang mengagungkan Eropa sebagai kiblat olahraga. Padahal, tiap kebudayaan memiliki olahraga khas, termasuk Islam.

Rasulullah seperti dalam riwayat Bukhari dan Muslim menganjurkan orang tua untuk mengajarkan anaknya berenang, menunggang kuda, dan memanah. Di riwayat lainnya, Nabi Muhammad juga melakukan lomba lari dengan istrinya, Aisyah. Selain itu, disebutkan Nabi Muhammad selalu berjalan kaki jika hendak ke masjid.

*Puasa

Nabi Muhammad juga rutin melakukan puasa sunat, di luar puasa Ramadhan. Karena itu, kita mengenal beberpa puasa yang beliau anjurkan, seperti Senin Kamis, ayyamul baidh, puasa Daud, puasa enam hari pada Syawal, dan sebagainya. Puasa adalah perisai terhadap berbagai macam penyakit jasmani maupun ruhani.

[irp]

Pengaruhnya dalam menjaga kesehatan, melebur berbagai berbagai ampas makanan, manahan diri dari makanan berbahaya sangat luar biasa. Puasa menjadi obat penenang bagi stamina dan organ tubuh sehingga energinya tetap terjaga. Puasa sangat ampuh untuk detoksifikasi (pembersihan racun) yang sifatnya total dan menyeluruh.

Source: Republika.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *